4 Penyakit Akibat sering Menahan Kencing
![]() |
| Menahan Kencing |
Hallo sahabat
pembaca ThekiFOT Pasti anda terutama yang cuma cewek-cewek
gara-gara takut ke belakang malam-malam akhirnya lebih memilih menahan kencing daripada ketemu hantu,
iya kan teman-teman??? Hehe. Sebaiknya mulai dari sekarang hilangkan kebiasaan
buruk menahan kencing karena banyak
dampak buruknya bagi kesehatan. Menahan
kencing dapat memicu timbulnya
beberapa penyakit yang fatal. Nah di bawah
ini adalah 4 Penyakit Akibat sering Menahan Kencing. Yuk kita simak penjelasannya..
Berikut adalah 4
Penyakit Akibat sering Menahan Kencing
:
1.Menyebabkan infeksi
ginjal.
Secara medis urin
yang dikeluarkan sebelumnya harus melewati tubulus-tubulus di ginjal baru
kemudian menuju kantong kemih yang selnjutnya baru dikeluarkan.Nah apabila
ginjal kita ini sudah penuh dengan urin dan tidak segera dikeluarkan maka kerja
ginjal menjadi terganggu, bayangkan apabila berjam-jam anda menahan kencing, jika dalam keadaaan
normal urin langsung dikeluarkan namun masih tertahan maka siklus pengeluaran
urin menjadi terganggu. Akhirnya jika sering menahan kencing maka terjadi infeksi di ginjal. Maka jangan menahan kencing agar kerja ginjal anda
menjadi normal
2.Timbulnya infeksi saluran kemih.
Menahan kencing memicu timbulnya bakteri-bakteri yang sebenarnya
dikeluarkan namun tertahan dan akhirnya dapat menyebar kebagian organ lain,
bahkan jika dibiarkan sampai jangka waktu lama dapat memicu penyakit sepsis,
yaitu timbulnya bakteri yang menyebar
melalui peredaran darah sehingga bisa menyebar ke seluruh bagian tubuh. Tanda-tanda dan gejala apabila terjadi infeksi saluran kemih
memiliki gejala tertentu yaitu
terjadinya nyeri di sekitar perut
bagian bawah, serta muncul rasa perih saat buang air
kecil, dan frekuensi buang air kecil juga menjadi lebih sering namun dengan
volume urin yang dikeluarkan lebih sedikit.
Nah sebaiknya jika sudah
memiliki gejala seperti ini, segera
sajalah periksakan diri anda
ke dokter.
3.Menyebabkan gagal
ginjal.
Berdasarkan
penuturan dari dr Chaidir A
Mochtar spesialis Urologi mengatakan bahwa jika kebiasaan menahan kencing dibiarkan
terus-menerus, bisa berpengaruh pada kesehatan ginjal kita. Hal tersebut berhubungan dengan meningkatnya tekanan pada ginjal,
mengakibatkan produksi ginjal menjadi
menurun dan akkhirnya
bengkak.
4.Terbentuknya batu
ginjal
Urin memiliki Kandungan
garam dan sisa mineral lain yang
apabila tidak segera dibuang dan ditahan maka bisa mengendap dan
menggumpal didalam ginjal, bayangkan
jika ini sering dan dalam jangka waktu yang lama. Nah apabila batu ginjal yang mengendap ini tak segera dioperasi untuk dikeluarkan maka dapat
berlanjut menyebabkan adanya luka
pada dinding ginjal sehingga
menimbulkan infeksi pada ginjal.
Contoh Surat Pengunduran Diri Pekerjaan
Ketika anda sudah jenuh dengan pekerjaan
anda dan sudah memiliki pandangan pekerjaan lain yang lebih
menjanjikan, tidak ada salahnya anda mengundurkan diri dari pekerjaan
anda yang sekarang. Jika anda sudah bekerja dengan sebaik baiknya dan
tidak mendapatkan gaji yang sesuai dengan apa yang anda kerjakan, dan
suatu ketika ada tempat lain yang lebih menjanjikan dan memberikan
kepuasan kerja untuk anda, silahkan anda membuat surat pengunduran diri dan melamar pekerjaan yang baru.
Apapun alasan anda pindah dari pekerjaan
yang lama anda harus membuat yang namanya surat pengunduran diri dari
kerja. Mengapa harus ada surat itu? Ya memang, anda harus membuatnya.
Secara attitude anda masuk membuat surat lamaran pekerjaan anda
keluarpun juga harus ada surat pengunduran diri.
Etika yang baik memang seperti itu. Hal
itu merupakan wujud dari penghormatan kepada perusahaan yang telah
memperkerjakan anda selama ini. Selain itu jika anda bekerja di
perusahaan besar dan anda mengundurkan diri tanpa membuat surat bisa
berakibat fatal, nama anda bisa diblacklist dari rekanan perusahaan
tersebut.
Nah oleh karena itu betapa pentingnya surat pengunduran diri dari pekerjaan itu harus dibuat. Jika anda belum tau format contoh surat pengunduran diri ini bisa lihat di bawah ini.
Contoh Surat Pengunduran Diri Pekerjaan
Kepada Yth,
HRD Manager (PT atau Nama Perusahaan Anda saat ini)
Di
Tempat
HRD Manager (PT atau Nama Perusahaan Anda saat ini)
Di
Tempat
Melalui surat ini, saya (Nama Lengkap Anda) bermaksud untuk mengundurkan diri dari (PT atau Nama Perusahaan Anda saat ini) sebagai (Jabatan terakhir anda di Perusahaan) terhitung sejak tanggal (tanggal pengunduran diri).
Saya mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bekerja di (PT atau Nama Perusahaan Anda saat ini). Saya juga memohon maaf kepada seluruh karyawan dan manajemen (PT atau Nama Perusahaan Anda saat ini) apabila terdapat kesalahan yang telah saya lakukan selama bekerja.
Saya berharap semoga (PT atau Nama Perusahaan Anda saat ini) dapat terus berkembang dan selalu mendapatkan yang terbaik.
Jakarta,…………..2013
Hormat Saya,
Hormat Saya,
(Nama Lengkap Anda)
Itulah contoh surat pengunduran diri pekerjaan
Nah dalam penulisan surat pengunduran
diri ini memang simpel dan singkat, akan tetapi ada rambu-rambunya agar
tidak menimbulkan masalah.
- Tulislah Surat Pengunduran Diri anda dengan singkat jelas dan padat, dengan tulis tangan atau diketik.
- Mengucapkan terimakasih kepada perusahaan dan rekan kerja yang telah memberikan kesempatan anda bekerja di perusahaan.
- Anda juga tidak perlu mencantumkan secara detail kenapa anda memutuskan untuk mengundurkan diri.
- Sebaiknya anda menulis Surat pengunduran Diri ini beberapa waktu sebelum benar benar berhenti total dari perusahaan, disini anda berarti memberikan kesempatan kepada rekan rekan atau pimpinan anda untuk segera mencari pengganti.
- Tulislah Surat Pengunduran Diri ini dalam kertas putih polos dan rapi.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan tentang beberapa point yang bisa kalian gunakan untuk acuan dalam membuat surat pengunduran diri beserta contohnya.
Read more: Contoh Surat Pengunduran Diri Pekerjaan
Lima Pertanyaan Sebelum Menikah
JAKARTA - Kamu beberapa kali ditanya
orangtua dan keluarga, "kapan menikah" karena umur sudah mencukupi.
Lalu buru-buru mencari calon menikah untuk melegakan orangtua. Atau
sudah pacaran lama, tapi gak juga menikah, malu dianggap gak
bertanggungjawab, lalu buru-buru menikah. Atau karena teman-temanmu
seangkatan sudah menikah dan punya anak, lalu kamu memutuskan menikah?
Atau kamu tidak enak mau memutuskan pacarmu dan pasrah saja saat diajak
menikah? Pertanyaannya, apakah menikah adalah pilihan yang tepat bagimu?
Apa yang perlu kamu ketahui sebelum kamu siap untuk mengikat janji
pernikahan? Coba jawablah beberapa pertanyaan dibawah ini sebagai
introspeksi :
1. Apa yang kamu cari dalam hidup pernikahan?
Pertanyaan ini nampaknya sangat filosofis dan susah untuk dijawab. Tapi coba carilah jawaban sederhana yang spontan dari dirimu. Kalau kamu hanya fokus pada perubahan status dari single to married, atau fokus pada mencari kebahagiaan dalam pernikahan, silakan untuk merenung dulu sebelum mengikat janji. Kebahagiaan itu pasti hal yang dicari dan setiap orang berhak untuk bahagia. Namun saat sudah menikah, apakah momen bahagia itu datang setiap detik dan waktu? Ada kalanya yang tidak muncul saat pacaran, akan muncul pada saat menikah. Nah, coba saya ganti pertanyaan yang saya lontarkan di atas dengan pertanyaan yang lain : Siapkah kamu menghadapi susah dan sedih bersama pasanganmu? Siapkah kamu menerima dan melengkapi kekurangan pasanganmu?Atau kamu tidak bisa mentoleransi pada hal-hal yang bahkan sangat sepele dia lakukan? Kalau jawaban dari pertanyaan yang terakhir adalah iya, coba renungkan baik-baik, apakah kamu menyayanginya?
2. Apakah kamu tertarik pada pesta pernikahan dan bukan pernikahannya karena kamu suka pesta dan ingin menjadi raja atau ratu sehari dalam waktu dekat?
Kue, bunga dan pernak-pernik pernikahan itu menarik semua.Tapi ada yang lebih dipertaruhkan daripada satu hari pesta pernikahan. Pernikahanmu adalah seumur hidup. Kamu tidak hanya ingin menikah, kamu ingin menikah dengan bahagia. Pikirkan tentang 50 tahun ke depan. Selain membicarakan pesta pernikahan, diskusikan kesepakatan pranikah dengan pasanganmu, uraikan bagaimana kalian akan menangani anak-anak, disiplin, sex education, pengelolaan uang, pembagian kerja, agama, karir, pensiun, mertua, dsb.
Jika kamu tidak berencana untuk mendiskusikan topik ini, kamu akan cenderung sulit di kemudian hari untuk menggabungkan dua kehidupan bersama-sama.
3. Mengapa kamu menikah?
Jujurlah dalam mengevaluasi alasan kamu merencanakan pernikahan.Tulis daftar pro dan kontra tentang pasangan kamu dan hubungan kalian berdua. Jika kamu dan pasangan belum pernah membicarakan hal ini, pastikan adanya diskusi antara dua hati, mengapa kalian memutuskan untuk menikah. Pastikan kamu tidak menikah untuk melarikan diri atau menghindari sesuatu. Apakah kamu hanya ingin menikah dan itu saja alasannya? Itu bukan alasan yang cukup baik. Jika kamu mual atau demam atau merasa tidak enak badan setiap saat belanja baju pengantin atau catering atau perlengkapan pernikahan yang lain, perhatikanlah bahwa tubuhmu sedang berbicara dengan jujur. Sisihkan waktu untuk introspeksi. Kamu ingin menikah sekali untuk selamanya?
4. Bisakah kamu menerima masa lalu pasanganmu?
Apakah kamu paham, percaya dan menerima terhadap masa lalu pribadi pasanganmu? Karena hal terbaik untuk memprediksi perilaku masa depan adalah dari perilaku masa lalu yang relevan. Belajarlah dari hal tersebut. Bagaimana pasanganmu berperilaku dalam hubungan masa lalu? Bagaimana pasanganmu berperilaku saat denganmu? Bagaimana pasanganmu belajar dari pernikahan orangtuanya? Apa yang pasangan kamu pelajari tentang pernikahan orang tuanya? Lihatlah secara dekat orang tua pasanganmu. Anak-anak belajar dari hidup mereka selama ini. Bukan berarti, anak dari orangtua bercerai lalu akan selalu bercerai. Mungkin bahkan mereka akan lebih menghargai pernikahan dan mempertahankannya. Tetapi fokusnya adalah, diskusikan tentang hal ini dalam sesi-sesi pacaranmu.
5. Sudahkah kamu mengkomunikasikan kebutuhan dan harapanmu pada pasanganmu?
Kenali dirimu. Kamu tidak dapat menentukan apakah seseorang adalah baik bagimu jika kamu sendiri tidak tahu kebutuhanmu sendiri. Ini tidak egois kok. Ini demi untuk memiliki tujuan dalam hubungan. Saling mengungkapkan kebutuhan dan harapan sekarang sebelum menikah, dan bukan ketika kamu sudah dalam pernikahan. Lalu sampaikan apa yang benar-benar membuatmu menilai bahwa pasanganmu mutlak melanggar komitmen? Sebaliknya, apakah kamu juga tahu harapan dan kebutuhan pasangan kamu?
Jadi intinya, menikahlah saat kamu siap secara mental, dan bukan saat kamu kesepian. Sudah sering mendengar hal inikan? Nah, coba renungkan beberapa pertanyaan di atas dan terapkan sebelum kamu mengikat janji nikah.
1. Apa yang kamu cari dalam hidup pernikahan?
Pertanyaan ini nampaknya sangat filosofis dan susah untuk dijawab. Tapi coba carilah jawaban sederhana yang spontan dari dirimu. Kalau kamu hanya fokus pada perubahan status dari single to married, atau fokus pada mencari kebahagiaan dalam pernikahan, silakan untuk merenung dulu sebelum mengikat janji. Kebahagiaan itu pasti hal yang dicari dan setiap orang berhak untuk bahagia. Namun saat sudah menikah, apakah momen bahagia itu datang setiap detik dan waktu? Ada kalanya yang tidak muncul saat pacaran, akan muncul pada saat menikah. Nah, coba saya ganti pertanyaan yang saya lontarkan di atas dengan pertanyaan yang lain : Siapkah kamu menghadapi susah dan sedih bersama pasanganmu? Siapkah kamu menerima dan melengkapi kekurangan pasanganmu?Atau kamu tidak bisa mentoleransi pada hal-hal yang bahkan sangat sepele dia lakukan? Kalau jawaban dari pertanyaan yang terakhir adalah iya, coba renungkan baik-baik, apakah kamu menyayanginya?
2. Apakah kamu tertarik pada pesta pernikahan dan bukan pernikahannya karena kamu suka pesta dan ingin menjadi raja atau ratu sehari dalam waktu dekat?
Kue, bunga dan pernak-pernik pernikahan itu menarik semua.Tapi ada yang lebih dipertaruhkan daripada satu hari pesta pernikahan. Pernikahanmu adalah seumur hidup. Kamu tidak hanya ingin menikah, kamu ingin menikah dengan bahagia. Pikirkan tentang 50 tahun ke depan. Selain membicarakan pesta pernikahan, diskusikan kesepakatan pranikah dengan pasanganmu, uraikan bagaimana kalian akan menangani anak-anak, disiplin, sex education, pengelolaan uang, pembagian kerja, agama, karir, pensiun, mertua, dsb.
Jika kamu tidak berencana untuk mendiskusikan topik ini, kamu akan cenderung sulit di kemudian hari untuk menggabungkan dua kehidupan bersama-sama.
3. Mengapa kamu menikah?
Jujurlah dalam mengevaluasi alasan kamu merencanakan pernikahan.Tulis daftar pro dan kontra tentang pasangan kamu dan hubungan kalian berdua. Jika kamu dan pasangan belum pernah membicarakan hal ini, pastikan adanya diskusi antara dua hati, mengapa kalian memutuskan untuk menikah. Pastikan kamu tidak menikah untuk melarikan diri atau menghindari sesuatu. Apakah kamu hanya ingin menikah dan itu saja alasannya? Itu bukan alasan yang cukup baik. Jika kamu mual atau demam atau merasa tidak enak badan setiap saat belanja baju pengantin atau catering atau perlengkapan pernikahan yang lain, perhatikanlah bahwa tubuhmu sedang berbicara dengan jujur. Sisihkan waktu untuk introspeksi. Kamu ingin menikah sekali untuk selamanya?
4. Bisakah kamu menerima masa lalu pasanganmu?
Apakah kamu paham, percaya dan menerima terhadap masa lalu pribadi pasanganmu? Karena hal terbaik untuk memprediksi perilaku masa depan adalah dari perilaku masa lalu yang relevan. Belajarlah dari hal tersebut. Bagaimana pasanganmu berperilaku dalam hubungan masa lalu? Bagaimana pasanganmu berperilaku saat denganmu? Bagaimana pasanganmu belajar dari pernikahan orangtuanya? Apa yang pasangan kamu pelajari tentang pernikahan orang tuanya? Lihatlah secara dekat orang tua pasanganmu. Anak-anak belajar dari hidup mereka selama ini. Bukan berarti, anak dari orangtua bercerai lalu akan selalu bercerai. Mungkin bahkan mereka akan lebih menghargai pernikahan dan mempertahankannya. Tetapi fokusnya adalah, diskusikan tentang hal ini dalam sesi-sesi pacaranmu.
5. Sudahkah kamu mengkomunikasikan kebutuhan dan harapanmu pada pasanganmu?
Kenali dirimu. Kamu tidak dapat menentukan apakah seseorang adalah baik bagimu jika kamu sendiri tidak tahu kebutuhanmu sendiri. Ini tidak egois kok. Ini demi untuk memiliki tujuan dalam hubungan. Saling mengungkapkan kebutuhan dan harapan sekarang sebelum menikah, dan bukan ketika kamu sudah dalam pernikahan. Lalu sampaikan apa yang benar-benar membuatmu menilai bahwa pasanganmu mutlak melanggar komitmen? Sebaliknya, apakah kamu juga tahu harapan dan kebutuhan pasangan kamu?
Jadi intinya, menikahlah saat kamu siap secara mental, dan bukan saat kamu kesepian. Sudah sering mendengar hal inikan? Nah, coba renungkan beberapa pertanyaan di atas dan terapkan sebelum kamu mengikat janji nikah.
6 Manfaat Menikah di Usia Muda
menikah di usia muda – ilustrasi © muslimvillage.com
Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah.
يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini
menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa
aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah
memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera
menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik
perintah Rasulullah ini.
1. Lebih terjaga dari dosa
Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut,
menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih
mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif
lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina
tangan.
2. Lebih bahagia
Hasil riset National Marriage Project’s 2013
di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang
merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang
menikah di usia 20-28 tahun.
Mengapa pasangan muda lebih bahagia?
Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda
lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum
mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy
dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar:
“Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia
lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”
3. Lebih puas dalam bercinta
Pasangan yang menikah di usia 20-an
cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah
lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011
menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan
satu kali jima’ dalam sebulan.
Sedangkan dalam tingkat kepuasan,
menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih
prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini
bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan,
sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat
farjinya…”
4. Emosi lebih terkontrol
Menikah di usia muda terbukti lebih
cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah
tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh
ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan
tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah
dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.
5. Lebih mudah meraih kesuksesan
Sebagian orang menunda menikah dengan
alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu.
Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang,
merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa
lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah
maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak
orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia
20-an.
6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak
Lebih baik bagi masa depan anak-anak di
sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa
saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu
pertimbangan.
Namun yang lebih penting dari itu,
menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda
belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara
langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah
mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu
fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.
Wallahu a’lam bish shawab. [Tim Redaksi Webmuslimah.com]
Langganan:
Postingan (Atom)




















































